Kamis, 08 Mei 2014

play chess part 1

Sering aku berakhir dengan mini game. Saat itulah aku berada pada kenormalan hakiki. Kondisi yang ku maksud adalah ketika penyakit keguremanku kambuh di saat yang tidak tepat. Lawan yang ku hadapi terlalu lemah, sehingga tak mungkin "quevenal position" hadir di setiap langkahku. Menurut analisis houdini , muncul data sebagai berikut:80% kalah, 15% remis, dan 5 % menang (ngarang.com).

sepenggal cerita cinta part 512

aku tak bisa melihatnya sekarang
dia masuk menembus titik butaku
lalu keluar dari pikiranku
membuat aku ketakutan kehilangan cahaya
sesuatu yang menunutunku pada pintu hati lain yang terbuka

Kamis, 27 Maret 2014

Doa Musafir Hati

Jarak antara kita sekarang lebih dari 90 km
Tuhan mengijinkan kita untuk tidak sholat berjamaah bersama
Tuhan juga mengijinkan kita mensucikan diri dengan debu
Tapi Tuhan tidak mengijinkan mendiamkan saudara lebih dari 3 hari
Oleh karena itu, ku serahkan jiwa ragaku pada Tuhan
Agar Tuhan mau mendengarkan doaku
"Bukalah pintu hati hamba
Bukalah pintu hati orang tua hamba
Bukalah hati saudara - saudara hamba
Bukalah pintu hati orang - orang yang hamba sayangi
Bukalahpintu surga untuk mereka"
Amin........

Rabu, 11 Desember 2013

aku kembali ke tuhan tanggal 5 desember 2013

tepat hari ini aku tak berhubungan cinta lagi dengan wanita
tak ada status jomblo karena ku kemudian memutuskan untuk berkekasih kembali dengan tuhan
memang aku sudah banyak melakukan dosa dengannya sampai saat inipun
jadi tolong bukakan pintu maafmu
tuhan terimalah jiwa dan hatiku kembali

NOL KOMA

bukan bermaksud untuk menipu
dalam sebuah sandiwara
semua ada karena cinta

malam kita berkelakar
menyusuri canda tawa
walaupun emosi janganlah terluka

huu hu hu malam semakin larut
huu hu hu nol koma tetaplah bergerak
huu hu hu walaupun keringat bercucuran
huu hu hu janganlah kau lupakan kenangan indah ini

hari hari kita lalui
bersama membangun sebuah cerita
semua tercatat dalam diary

malam kita meneriakkan
senandung lagu persahabatan
walaupunkan berpisah jangan kau lupakan

Selasa, 23 April 2013

suara cahaya

ku dengar suara berisik saat kau menerobos lubang2 kecil papan lapuk
dentuman keras saat kau bertabrakan dengan debu2 yg racuni aku di ruang kosong ini
ternyata debu2 itu yg selalu beri kesesatan dan racuni aku dengan khayalan palsu

lalu kau berbisik lagi
iqra' iqra' iqra'
tapi aku hanya bisa bilang tidak bisa
karena aku buta
terlalu lama terpenjara oleh nafsu syetan dan kejahiliyahan
kemudian kaupun menuntunku
memapahku
dipaksanya aku untuk berdiri
untuk memeluk suara cahaya yg menyentuh sukmaku
setelah itu yang kulihat sekarang hanya cerah..........


Jumat, 19 April 2013

Bala tentara MARA menyerang Pertapa Gautama di bawah pohon Bodhi


Lalitavistara, dinding timur, Panel 12
Bala tentara MARA menyerang Pertapa Gautama di bawah pohon Bodhi

            Borobudur sebagai salah satu warisan dunia yang berasal dari Indonesia memiliki misteri yang menarik untuk diungkap.  Misteri itu terpahat indah dalam relief-relief yang terpahat di dinding-dinding Candi Borobudur. Salah satu cara agar kita mampu memahami carita dalam pahatan leluhur kita itu adalah dengan melakukan PKL yang telah dilakukan pada hari sabtu, 10 November 2012.
Relief-relief tersebut merupakan sebuah komik kuno yang menceritakan perjalanan hidup Sang Budha Sidharta Gautama. Dari sekian relief yang terpahat di dinding Candi Borobudur terdapat beberapa relief yang menarik dan beberapa diantaranya masih belum bisa dijelaskan isi ceritanya oleh para ahli. Di saat menelusuri kisah Sidharta Gautama terdapat satu relief yang menarik, Relief  tersebut berada di dinding timur panel ke-12 dan termasuk dalam Lalitavistara. Jika dilihat sekilas terdapat relief  Sang Budha yang sedang bertapa dan dikelilingi oleh banyak orang. Berikut kisah yang terdapat dalam  relief  tersebut:

Di dalam perjuanganNya yang luar biasa untuk mencapai Penerangan sem-purna. Bodhisatva Siddhartha yang sedang duduk bermeditasi di bawah pohon Bo-dhi di Bodhgaya, dengan tekad yang amat kuat, untuk tidak akan bangun dari tem-pat dudukNya sebelum memperoleh Penerangan Sempurna dan mencapai Nibbana, datanglah  Mara (mahluk halus atau penggoda)  yang bermaksud menghalang-ha-langi Bodhisatva memperoleh Penerangan Sempurna. Mara muncul dengan diser-tai oleh bala tentaranya yang amat besar, bermaksud  menyerang Bodhisatva Sid-dhartha. Balatentara Mara yang amat mengerikan ini mengelilingi Bodhisatva, da-ri depan sejauh dua belas yojana 1), dari belakang sejauh dua belas yojana, dari kiri dan kanan selebar sembilan yojana.
             Mara sendiri membawa seribu senjata yang amat berbahaya dan duduk me
-nunggangi Gajah Girimekhala yang amat besar dengan tinggi seratus lima puluh yojana. Diikuti dengan bala tentaranya yang berwajah amat menyeramkan, mereka semuanya membawa senjata dengan meraung menakutkan, siap menyerang Bodhi-satva Siddhartha. Pada saat Mara mendatangi Bodhisatva dengan bala tentara yang begitu besar, maka para dewa, seperti Maha Brahma, Sakka, Rajanaga Mahakala dan para dewa lainnya, menyingkir dari tempat itu. Bodhisatva menghadapi sendiri Mara beserta bala tentaranya dengan berlindung kepada sepuluh Paramita yang te-lah sejak lama dilatihnya.

Sepuluh Paramita itu adalah :
1.         Dana Paramita (Kesempurnaan Kerelaan Hati)
2.         Sila Paramita (Kesempurnaan Kemoralan)
3.         Nekkhama Paramita (Kesempurnaan Pelepasan Keduniawian)
4.         Panna Paramita (Kesempurnaan Kebijaksanaan)
5.         Viriya Paramita (Kesempurnaan Semangat)
6.         Khanti Paramita (Kesempurnaan Kesabaran)
7.         Sacca Paramita (Kesempurnaan Kebenaran)
8.         Adhitthana Paramita (Kesempurnaan Tekad)
9.         Metta Paramita (Kesempurnaan Cinta Kasih)
10.       pekkha Paramita (Kesempurnaan Keseimbangan Batin)

              Dengan berlindung kepada sepuluh Paramita inilah, maka semua usaha Mara beserta bala tentaranya untuk menakut-nakuti Bodhisatva, dengan hujan be
-sar yang disertai angin kencang dan halilintar yang menggelegar terus-menerus, ju-ga diikuti dengan pemandangan-pemandangan lain yang amat mengerikan ternyata gagal semua. Akhirnya Mara dengan penuh kemarahan menyambit Bodhisatva de-ngan senjatanya yang terakhir yaitu Cakkavudha 2). Tetapi senjata ini berubah menjadi payung yang amat indah, yang dengan tenang bergantung dan memayungi Bodhisatva. Bumi telah menjadi saksi, bahwa Bodhisatva Siddhartha telah lulus dari semua kesulitan dan layak untuk menjadi seorang Buddha.

Sang Bodhisatva berkata :
"Dengan melihat bala tentara pada semua sisi berbaris dengan Mara yang mengatur di atas Gajah Girimekhala. Aku maju ke depan untuk berperang, Mara tidak akan dapat mendorongKu dari posisiKu. Bala tentaramu dengan dunia beserta dewa-de
-wa tak terkalahkan. Dengan KebijaksanaanKu, Aku terus menghancurkan mereka, bagaikan Aku menghancurkan mangkok yang belum dibakar. Dengan mengawasi pikiranKu, dan dengan kesadaran yang kuat, Aku akan mengembara dari negara ke negara, sambil melatih banyak murid. Dengan rajin dan bersungguh-sungguh, dalam mempraktekkan AjaranKu, mereka tidak akan memperdulikanmu dan akan pergi ke tempat yang tidak ada lagi penderitaan."
              
Gajah Girimekhala lalu berlutut di hadapan Bodhisatva dan Mara meng-hilang, lari tunggang langgang bersama dengan bala tentaranya. Para dewa yang menyingkir ketika Mara datang menyerang, datang kembali menghampiri Bodhi-satva. Mereka semua amat bahagia dengan keberhasilan Bodhisatva Siddhartha menaklukkan Mara.
Setelah berhasil mengalahkan Mara, pertapa Gotama memperoleh Pub-bernivasanussatinana, yaitu kebijaksanaan untuk dapat melihat dengan terang ke-lahiran-kelahirannya yang dulu. Hal ini terjadi pada waktu jaga pertama, yaitu an-tara jam 18.00 – 22.00.

              Pada waktu jaga kedua, yaitu antara jam 22.00 – 02.00, pertapa Gotama memperoleh Cutupapatanaria, yaitu kebijaksanaan untuk dapat melihat dengan te
-rang kematian dan timbal lahir kembali dari makhluk-makhluk sesuai dengan tumpukan karma mereka masing-masing. Tumpukan karma yang berlainan inilah yang membuat satu makhluk berbeda dengan makhluk lain. Kemampuan ini juga dinamakan Dibbacakkunana, yaitu kebijaksanaan dari Mata Dewa.

              Pada waktu jaga ketiga, yaitu antara jam 02.00 – 04.00, pertapa Gotama memperoleh Asavakkhayanana, yaitu kebijaksanaan yang dapat menyingkirkan secara menyeluruh semua Asava (kekotoran batin yang halus sekali).

  Dengan demikian ia mengerti sebab dari semua keburukan dan juga mengerti cara untuk menghilangkannya. Dengan ini ia telah menjadi orang yang paling bijaksana dalam dunia yang dapat menjawab pertanyaan yang disampaikan kepadanya. Sekarang ia mendapat jawaban tentang cara untuk mengakhiri penderitaan, kesedihan, ketidak-bahagiaan, usia tua dan kematian. Batinnya menjadi tenang sekali dan penuh kedamaian, karena sekarang ia mengerti semua persoalan hidup dan menjadi Buddha.

Keterangan :

1. Yojana : Ukuran panjang yang digunakan di India, 1 yojana kurang lebih
     7 mil.
2. Cakkavudha : Senjata Mara yang amat sakti