Sabtu, 31 Maret 2012

waktu by Iva N Bbegh d'Layofmawud

Aku tak mengenalmu
Aku tak pernah melihatmu
Aku tak pernah tersenyum padamu
Betapa kejamnya aku...
Tapi itu bukan salahku
Benarkan???
Kau melaju bebas dan tak terbatas..!!
Kau tak punya batas
Kau tak punya rambu" lalu lintas..
Kau tak punya rasa yg pedas
Kau hanya sebuah kata
Tapi kau yg mengajariku untk melaju...
Melaju bebas, tak peduli dg rambu" lalu lintas
Tak peduli dg rasa yg pedas.., krn dg begitu, aku bisa melangkah bebas

Es by Zhiyzie Dolphin

Kurasa Kau sedingin es.
Suaramu via HP di balasan sms,
wujud tanpa bentuk.
Tapi kenapa aku begitu takluk?

Meski by Zhiyzie Dolphin

Meski sudah
Kuselami paling palung
Sampai airmatamu ke relung.
Meski sudah
Kusulut berbilang mendung
Sampai gelakgirangmu ke relung.
Meski sudah
Kueja senandung
Sampai awan mendengkur ujung.
Maka,
kuhabiskan kata.
Dan kubiarkan laron2 itu patah sayap.

31 Maret 2012

hanya hujan di pagi hari
sekarang ku rasakan panas sekali
sepanas jiwaku
karena tak ada yang mendinginkan
karena dia sedang pergi jauh dan masih beberapa hari lagi ku bertemu dengannya

Rabu, 28 Maret 2012

29 Maret 2012

hari ini adalah hari aneh dan luar biasa dalam hidupq
entah mengapa tangan kananku kaku waktu bangun n baru bisa bergerak setelah ku wudhu

jam setengah 8 ku kira da kul b,ing, baru ku sadar bahwa dosen.a lg d'jakarta setelah q bertemu temanq

jam 9 ketika q memasak nasi n mie indomie d'ukm trnyata jam 9 da kul manajemen pendidikan dan saat itu q harus presentasi. jadinya q terlambat 40 menit dengan alasan kesiangan, hhe.

td ketika mau nganterin imoe k'kost.a, helmq tiba2 hilang d'parkiran mobil, ternyata diamankan oleh penjaga SC gara2 parkirin motor di parkiran mobil,

setelah q tunggu lama, nasi.a og gk mateng2, ternyata rice kuker.a belum q ceklekin, "sampai nnti malam ya blum mateng", kata bang arif. q pun beli lauk d'depan lapangan softbal, dg 12.000 dpt lauk banyak padahal di tambah makanan moe.

q pun d'ajak k'kost moe, dia gk ngijinin aq pergi sampai jam 01.00.
moepun q antar k'tempat nunggu bis sktar jam 04.00 karena q kesiangan saat tidur d'kost rian

Senin, 26 Maret 2012

menulis buku kehidupan by Rony Kurniawan Pratama

Manusia seperti sebuah buku..
Cover depan adalah tanggal lahir..
Cover belakang adalah tanggal kematian…
Tiap lembarnya adalah tiap-tiap hari dalam hidup kita dan apa yg kita lakukan…
Ada buku yg tebal, ada buku yg tipis…
Ada buku yg menarik dibaca…
Ada yg tidak sama sekali menarik dibaca…
Sekali menulis, tidak akan pernah berhenti sampai selesai….

Yang hebatnya, seburuk apapun halaman sebelumnya…..
Selalu tersedia halaman selanjutnya yg putih bersih, baru dan tiada cacat…
Sama dengan hidup kita,
seburuk apapun hari kemarin,
Allah selalu menyediakan hari yang baru untuk kita…
Kita selalu diberi kesempatan yang baru,
Untuk melakukan sesuatu yang benar dalam hidup kita setiap harinya,
memperbaiki kesalahan kita,
Dan melanjutkan alur cerita yg sudah ditetapkanNya untuk kita masing-masing….


Nikmatilah dan isilah halaman buku kehidupanmu dgn hal-hal yang benar….

Dan jangan lupa, untuk selalu bertanya kepada Allah, tentang apa yg harus ditulis tiap-tiap harinya…
Supaya pada saat halaman terakhir buku kehidupanmu selesai, engkau didapati sebagai pribadi yang di ridhoiNya….
Dan buku kehidupanmu layak untuk dijadikan teladan bagi anak cucumu….
Selamat menulis di buku kehidupanmu, dengan tinta cinta dan pena kebijakan…. Selamat beraktifitas ….
Semoga Allah memudahkan semuannya untuk kita pada hari ini dan selanjutnya…..

Senandung Hati Ungu by Depp Holmes

Seberkas lengkungan cahaya merah di langit bagian barat. Matahari mulai menghapus jejak jejak yang terekam olehnya hari ini. Membiaskan senja yang begitu indah. Kemudian dipantulkan oleh air laut yang nyata nyata ikut menikmati goresan cahaya matahari sore itu bersamaku.

Sementara itu dari sebelah timur terlihat gunung gunung berbaris ikut pula menikmati keindahan suasana pantai sore itu. Dari penjuru penjuru pesisir terasa angin kesejukan berhembus menembus ke tulangku.Desir pasir pantai mencekram erat jari jari kakiku seolah menyuruhku untuk tetap berada di sini. Waktu telah menunjukan pukul 17.00 WIB di arlojiku. Entah berapa lama aku berada di sini menikmati lukisan alam yang diciptakan oleh-Nya, dengan ditemani benda usang yang begitu berarti bagiku sekarang.Benda yang akan menjadi saksi perjalanan cerita kasihku bersama seseorang.

"Subhanaullah, betapa indahnya yang telah Engkau lukiskan ya Allah."

Dalam termenungan itu aku mulai mengingat sejatinya apa yang telah membawa hatiku yang sedang bersenandung dalam kesedihan hingga berada di sini. Mengagumi karya yang begitu indah yang telah Kau ciptakan.

***

Pagi itu seperti biasa matahari pagi masih setia menyapaku. Sebelum ia menampakan dirinya aku bangun hendak menunaikan kewajibanku sebagai seorang muslim. Air segar aku basuhkan ke mukaku mengalir menghapus mimpi mimpi yang kualami selama tidurku semalam. Setelah aku berwudhu lantas aku segera menjalankan kewajibanku yaitu  shembayang subuh. Kemudian Berdoa agar yang ku jalani hari ini lancar dan mendapat ridho dari-Nya.
Setelah melaksanakan tugasku sebagai seorang muslim dan kemudian mandi membersikan badanku dari bau bau tak sedap pagi ini.

Aku melihat Ibuku sudah siap dengan masakanya pagi itu. Nampaknya dia bangun lebih awal dariku dan menyiapkan sarapan yang selalu aku nikmati setiap pagi. Nasi hangat terlihat mengepul di atas bakul , telur ayam melihatkan senyumnya tak tega aku untuk memakanya. Sesegera ku selesaikan urusanku pagi itu.
Aku berpamitan pada ibundaku lantas menuju tempatku menimba ilmu.

"Assalmmu'alikum." aku cium tangan kananya dengan rasa hormat.

Ibu membalas salamku dengan wajah mengembang. Kemudian sesegera aku berangkat sekolah pagi itu. Udara pagi kota Jogja yang mulai tak segar untuk dirasakan, karena asap asap tak bertanggungjawab keluar begitu saja dari lubang kendaraan menemani perjalananku bersama hiruk pikuk lalu lintas jalanan kota tercintaku.

***

Sesampai di sekolah setelah memarkirkan kendaraanku. Aku menuju ruang kelas yang sejak tiga tahun selalu ku huni bersama teman temanku. Jam pertama pagi ini adalah Matematika , pelajaran yang menyegarkan di pagi hari. Ku lihat di depan pintu Adinda gelisah seperti menunggu seseorang. Benar saja ternyata dia sengaja di sana untuk menungguku. Kemudian ia menyapaku dan menghentikan langkah langkah kakiku.

Tapi tak seperti biasanya kekasihku ini nampak beda hari ini.

"Nam, siang ini sepulang sekolah aku ingin bicara padamu !"
"Kenapa tak sekarang aj Nda ?" tanyaku sambil menatapnya , tapi dia langsung menghindari tatapanku dengan sengaja.

Kemudian ia berjalan menuju tempat duduknya di salah satu sudut kelas. Aku pun lantas duduk karna ku lihat guruku sudah datang hendak mulai pelajaran hari ini. Hati dan perasaan ini tak tenang memikiran ucapan dan sikap kekasihku yang tak seperti biasanya. Pikiranku tak bisa fokus memperhatikan pelajaran, ku lihat Adinda dari tempat duduku. Semakin lama ku perhatikan dia semua anggota tubuhku ini tak kuasa lagi memikirkan sikapnya tadi.

***
Detik berdetak berganti menit. Kemudian menit demi menit terus berjalan. Pelajaran hari ini tak ada yang masuk ke otaku yang ada hanya pikiran tentang sikap Adinda tadi pagi yang membuat semua anggota badanku gelisah.Jam sekolah telah berakhir matahari mulai condong ke arah barat. Teman teman mengajaku pulang namun aku menolak ajakan mereka. Aku duduk di sebelah Adinda kemudian aku rapatkan kursiku lebih dekat dengannya.

Kelas sudah sepi saat Adinda mulai pembicaraanya.

"Nam, aku minta maaf padamu hubungan kita harus berakhir di sini." kata Adinda seraya mengusap eluh yang menetes di pipinya.

Kalimat yang diucapkanya itu terasa asing di hatiku. Semua yang tertempel di dinding kelas nampak olehku berjatuhan satu demi satu, tatkala ku dengar kalimatnya tadi.

"Kamu bilang apa ?"
"Maaf Nam !"
"Tapi apa alasanya, Nda ?"

Air mata yang sejak tadi terbendung oleh kantung hati dan tersumbat oleh perasa tegar mulai mengalir di wajahku.

"Aku mau meninggalkan Jogja Nam, aku tak ingin menyakiti hatimu Nam tak mungkin juga kita berpacaran dengan jarak jauh karena sesunggnya itu hanya akan membawa kecurigaan diantara kita. Aku masih sayang kamu Nam, tapi apalah diriku jika rasa sayang itu tanpa ada kehadirimu disisiku kelak saat aku telah pergi. "
"Mengapa kau mau meninggalkan Jogja ? "
" Aku tak bisa menjawab pertanyaanmu itu Nam, tapi berjalanya waktu kau akan tahu" kata Adinda seraya membendung air matanya.
"Sesungguhnya aku tak ingin meninggalkan Jogja meninggalkan kenangan indah bersanamu selama ini tapi apa lah dayaku hanya seorang anak angkat yang mencoba patuh kepada orang tua angkatku yang telah memberiku penghidupan, memberikan kasih sayangnya padaku selama ini bahkan melebihi orang tua kandungku." Sambung Adinda.

Telinga ini tak sanggup untuk terus mendengarkanya.

" Aku sayang kamu Nda, mengapa kau tega melakukan ini padaku  Nda ? " kataku.
" Sudah Nam,aku tak ingin melihat dirimu semakin sedih hanya karena diriku, trimakasih atas semua yang pernah kau berikan padaku selama ini "

Adinda berkata terakhir kalinya padaku, seraya memberikan kecupan di keningku lalu pergi meninggalkanku sendirian.

Perasaan ini hancur, hati ini menangis. Tembok tembok seolah semakin menghimpit dadaku. Hubungan yang sejak kelas satu aku jalani bersama pujan hatiku kandas sepihak begitu saja tanpa sebab yang tak ku mengerti.

***

Suara dering pesan di telepon genggamku menyadarkan senjaku di pantai. Kulihat pesan dari ibundaku menanyakan keberadaanku,mungkin ia gelisah mencari anak lelaki semata wayangnya ini.

Kemudian kupandangi benda usang , gelang tangan pemberian Adinda kuingat kembali kenangan bersamanya.

Goresan senja matahari kian lama kian menghilang ditutupi oleh tirai malam yang mulai terpasang. Kemudian diterangi oleh cahaya bulan yang terpantul ke luasnya samudra hindia yang menyilaukan mata ini. Tak kusangka cerita cintaku ini telah membawa diriku di pantai merenungi makna di balik perpisahan kisah kasihku bersama Adinda.