Senin, 09 April 2012

hitam

mungkin ini hidupku
tak ada warna lain
hanya putih yang merubahnya jadi abu-abu
hanya cahaya darinya yang terangi jalan hidupku

hijau

dia memanggilku
dia selalu menantiku
disaat panas merongrong udara yang kering

dia terbang melayang di udara
dia menentramkan mataku
ketika cahaya mentari bertarung dengan kegelapan mendung

dia menyelimutiku
dia di memayungi tubuhku
waktu jiwa telah dipisahkan dengan raga

9 April 2012

seperti senin2 sebelumnya, rasa ngantuk masih menyelimuti karena tadi malam menemani moe

hanya 2 pertanyaan tentang herpes dan tindakan komnas perlindungan anak untuk mengatasi dampak seks bebas

tugas menyimak bertambah lagi setelah menyimak lagu pecundang endank soekamti dikumpulkan. 2 minggu harus mengumpulkan tugas menyimak film lalu besok membawa silabus mendengarkan kelas 2 SMA yang memfotocopy dari vita

masih menunggu moe yang mau k'kostq di ukm catur sambil ngopi dan kipasan di tengah jogja yang panas.
setelah q tunggu zmz dari.a, ternyata dia sudah pulang karena tidak menemukan motorku d'kostq

latihan rutin bersama bang arif dan pak norvan, choiru.

untung masih d'ukmc, ternyata wikan ultah n dapat kejutan berupa kue ulang tahun dari neni, suci, ismi, dan arina.

k'kost ryan, ternyata dia sedang d'congcat dan ku harus menunggu sambil ol dan zmzan dg moe yg lg pusing sehingga dia tidak jadi mengarang cerita dalam b.ing.

sudah jam 12 akupun tidur dengan kemenangan besar d'texa holden poxer ketika ol d'warnet dekat kot ryan 

Kamis, 05 April 2012

Dingin malam

dingin selimuti tubuhku
tidak ada kehangatan yang ku dapat dari peluknya
walau mentari telah sinariku seharian dengan sedikit dipotong hujan di sore hari
kehangatan peluknya tidak ada yang menggantikan

dingin selimuti tubuhku malam ini
dan ku tak tau apakah mentari sempat hangatkan tuibuhku di pagi hari

Rabu, 04 April 2012

----- YA ALLAH, AKU MALU ---- by Noe Ksatria Bersupra Item

assalamu'alaikum warrahmatullahi wabarokatuh

Bismillahirrahmanirrahim…

Setiap hari kulewati seperti biasanya. Tanpa pernah merasa kekurangan. Kekurangan hal yang sebenarnya kubutuhkan. Tanpa pernah merasa bahwa aku membutuhkan sesuatu. Sesuatu yang dapat menimbulkan perubahan. Perubahan hebat dalam diriku. Aku tak pernah sadar bahwa selama ini aku terlalu terlena dalam buaian kebiasaan, kebiasaan yang sebenarnya banyak menjerumuskan. Bermalas-malasan, tidak pernah merasa kekosongan, tidak mempunyai perencanaan, dan semua kebiasaan yang tak pernah ada perubahan.

Saat aku terbangun di pagi hari karena lantunan adzan Shubuh, seringkalinya diriku menanti-nanti panggilan cinta-Nya padaku. Tak jarang aku mengakhirkan waktu bercinta dengan-Nya yang hanya sebentar itu. Hingga ku lakukan dua raka’at yang berharga untuk memulai hariku itu bersamaan dengan munculnya sinar sang surya dari arah timur. Aku tak pernah sadar bahwa bagaimana aku akan menjalani hari penuh berkah bila aku telah mengawalinya dengan sebuah dosa besar.

Saat sepertiga malam yang seharusnya menjadi amalan sunnah yang sering kulakukan, tak jarang aku malah asyik merajut mimpi-mimpi. Padahal Dia dengan setianya menantiku untuk mendengarkan segala peluh dan pintaku. Aku tak pernah sadar bahwa sebaik-baik waktuku untuk memunajatkan doa pada-Nya adalah saat sepertiga malam itu. Waktu yang hanya ada aku dan Dia saja.

Saat aku akan memulai aktivitasku di pagi hari, tak jarang aku meninggalkan raga ini bergerak sebelum menghirup sarapan jiwa dari nikmatnya sholat Dhuha. Sarapan pagi bagi jasad ini lebih aku pentingkan dengan alasan perlunya kalori yang cukup banyak untuk menjalani aktivitasku yang memang cukup padat itu. Aku tak pernah sadar bahwa ternyata jiwaku membutuhkan santapan rohani berkalori tinggi untuk metabolisme pemikiran dan perasaanku. Sebelum aku pergi untuk beraktivitas, seringkali aku tak sempat meluangkan waktu membaca Al-matsurat pagi yang hanya sebentar itu. Update status dan melihat notification di facebook lebih aku pentingkan daripada hal itu. Padahal waktu yang kubuang tidaklah sedikit untuk melakukannya, bahkan hampir di setiap waktu luangku. Aku tak pernah sadar bahwa doa yang dianjurkan Rasulullah itu merupakan pelindung bagiku menjalani hari-hari yang mungkin akan terasa berat untukku.

Ketika mentari menunjukkan keangkuhannya dengan berada di puncak kepala, tak jarang aku mengakhirkan waktu panggilan Dzuhur. Dengan alasan menyelesaikan pekerjaan yang tanggung tinggal sedikit lagi itu, aku mengakhirkan waktu bercinta dengan-Nya lagi. Jangankan untuk sunnah qobla dan ba’da dzuhur, berdoa pun begitu seperlunya saja kulakukan, karena ternyata sebentar lagi adzan Ashar berkumandang. Aku tak pernah sadar bahwa Dia telah mem-plot waktu untuk bercinta dengan-Nya dengan begitu baiknya.

Saat adzan Maghrib berkumandang tak jarang juga aku mengakhirkan waktu bercinta dengan-Nya untuk menutup hari itu. Sering kali aku bergegas melakukannya dengan secepat kilat karena perutku yang keroncongan lebih penting bagiku. Aku tak pernah sadar bahwa di antara waktu Maghrib dan Isya yang begitu singkat itu sebaiknya aku menikmati lantunan dzikir dan tilawahku, yang sangat jarang kulakukan itu.

Ketika adzan Isya berkumandang, sering kali aku merasa tanggung untuk meninggalkan tontonan televisi dan canda tawa bersama teman-teman. Bahkan pada saat-saat itu sebenarnya bisa aku pergunakan untuk mendengar radio Islami, membaca buku Islami, atau bahkan menulis tulisan hikmah yang bermanfaat bagi saudara muslimku. Aku tak pernah sadar bahwa begitu banyak waktu yang telah kusia-siakan selama ini, hingga selalu saja mengharapkan manfaat adanya orang lain untuk diriku, tanpa pernah mengevaluasi apa manfaat diriku untuk orang lain.

Waktu tidur pun telah tiba. Rasa ngantuk yang menjalari mataku berbaur dengan otakku yang mulai kelelahan karena beraktivitas seharian. Aku langsung merebahkan tubuhku ke tempat tidur. Aku biarkan tubuhku terlelap tanpa disucikan terlebih dahulu dengan air wudhu. Jangankan untuk itu, tak jarang aku lupa membaca doa sebelum tidur, apalagi kalau harus membaca beberapa surat-surat pendek Al-Qur’an terlebih dahulu. Aku tak pernah sadar bahwa tak ada yang dapat menjamin bahwa aku dapat bangun kembali esok hari.

Setelah itu terjadi, barulah aku sadar bahwa waktuku ternyata tidaklah banyak. Malaikat izrail tengah bersiap kapan saja dan dimana saja untuk mengambil nyawaku, bila waktuku telah tiba. Aku tak mau baru saat itu aku tersadar bahwa aku telah banyak menabung dosa untuk akhiratku. Aku tak mau saat itu aku mendengar bahwa aku telah terlambat untuk menebus semua dosa-dosaku. Aku tak mau baru saat itu aku tersadar bahwa amalanku tidaklah cukup untuk membuatku berbangga menghadap Rabb-ku.

Rabb… Aku sering tak tahu diri Aku sering tak tahu malu Aku malu pada-Mu

Rabb… Aku sering keliru Aku sering terlupa Aku melupakan-Mu

Rabb… Hidayah-Mu adalah penerangku Mahabbah-Mu adalah kesetiaanku Izzah-Mu adalah kekuatanku

Rabb… Jangan pernah berpaling dariku

wassalamu'alaikum warrahmatullahi wabarokatuh

4 April 2012

aku menangis kedua kali dihadapannya
air mata keluar tanpa alasan yang jelas

sore hujan deras turun dari langit setelah air mataku reda

dia sore ini mungkin sedang sendiri dalam kediginan walau ada banyak orang di pendopo tejo
dan aku sibuk rapat poengurus di ukm catur uny

3 April 2012

pertama kali berbuka bersama
walau kuraakan ini bukan puaa yang sempurna